Artikel oleh : Khansa Putri Sanjaya
Bagi generasi muda saat ini, mengekspresikan diri melalui pakaian atau outfit sudah menjadi bagian dari identitas harian. Ditambah lagi dengan masifnya algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram, trend fashion berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Istilah “baju gemas” dengan harga ramah kantong kini menjamur melalui berbagai platform belanja daring. Fenomena inilah yang melahirkan era fast fashion—sebuah sistem industri yang memproduksi pakaian dalam jumlah massal, waktu kilat, dan harga murah demi mengejar trend terbaru. Namun, di balik kemudahan remaja untuk tampil modis setiap hari, ada harga ekologis teramat mahal yang harus dibayar oleh bumi kita.

Dilema gaya hidup konsumtif ini tanpa sadar telah menempatkan generasi muda di tengah pusaran krisis lingkungan. Industri fast fashion sangat bergantung pada bahan sintetis murah seperti poliester, yang pada dasarnya adalah plastik. Proses produksinya mengonsumsi energi fosil dalam jumlah raksasa dan melepaskan emisi karbon yang memperparah pemanasan global. Lebih parah lagi, industri tekstil ini menjadi salah satu penyumbang limbah cair terbesar di dunia. Zat pewarna kimia beracun dari pabrik konveksi seringkali langsung dialirkan ke ekosistem air tanpa pengolahan yang memadai. Akibatnya, sungai-sungai tercemar, biota air mati, dan pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar kian terancam. Kondisi ini bertentangan secara frontal dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) No. 6 mengenai Air Bersih dan Sanitasi Layak bagi Semua.
Ironisnya, usia pakai pakaian fast fashion ini biasanya sangat singkat. Karena diproduksi dengan material berkualitas rendah, baju-baju ini cepat rusak atau lekas usang karena trendnya sudah berganti minggu depan. Akibatnya, gunung-gunung sampah baru tercipta di berbagai TPA, yang kali ini didominasi oleh limbah tekstil yang sulit terurai oleh alam. Di sinilah relevansi SDGs No. 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab diuji di kalangan remaja. Selama ini kita menuntut industri untuk berubah, namun sebagai konsumen, kita justru terus menormalisasi budaya thriving (membeli baju secara berlebihan) hanya demi validasi visual sesaat di dunia maya.

Sebagai penanggung jawab masa depan, remaja tidak boleh terus terjebak dalam lingkaran setan ini. Kita harus mulai mengubah paradigma berpikir dalam berpakaian melalui konsep sustainable fashion. Langkah konkretnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menerapkan metode capsule wardrobe (memiliki sedikit pakaian esensial yang mudah dipadupadankan), merawat pakaian dengan baik supaya awet, hingga memilih opsi bertukar baju (clothe-swapping) atau membeli pakaian bekas berkualitas (thrifting) yang bertanggung jawab. Memilih untuk tidak membeli pakaian baru secara impulsif bukan berarti kita ketinggalan zaman, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa kita lebih peduli pada kelangsungan hidup bumi daripada tren yang akan hilang dalam hitungan minggu.
Jadi, sebelum kamu checkout barang-barang di keranjang belanjamu, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah outfit ini benar-benar mencerminkan identitasmu, atau justru mengorbankan masa depan bumi kita? Yuk, mulai jadi konsumen yang bijak dari sekarang!
