Ketika Dunia Tidak Baik-Baik Saja: Peran Pelajar Generasi Z di Tengah Krisis

Penulis: Gifanara Hasan

Hidup di tahun 2026 terasa jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kita dibanjiri berita tentang kehilangan. Diantaranya kehilangan nyawa, harta benda, lingkungan yang rusak, hingga pemukiman yang terdampak bencana. Kita menyaksikan gelombang demonstrasi, kerusuhan, prediksi-prediksi global yang menegangkan, serta krisis dan kelangkaan yang datang tanpa peringatan. Bahkan saluran televisi yang sebelumnya fokus mengulas persoalan kriminal dalam negeri kini ramai membahas potensi konflik besar di berbagai belahan dunia.

Di tengah arus informasi yang nyaris tak berhenti ini, muncul pertanyaan penting: bagaimana seharusnya kita, sebagai Gen Z, merespons semua itu?

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling terhubung dengan teknologi dan media sosial. Namun, konektivitas tanpa batas ini juga membawa konsekuensi. Tingkat kecemasan (anxiety) di kalangan Gen Z meningkat signifikan, dipicu oleh tekanan ekonomi, persaingan kerja yang ketat, serta paparan informasi yang terus-menerus. Lebih dari separuh Gen Z melaporkan bahwa kecemasan mereka memburuk, dengan gejala umum seperti kelelahan fisik dan emosional, overthinking, hingga rasa takut tertinggal (FOMO).

Dalam situasi seperti ini, penting bagi kita untuk tidak hanya menjadi konsumen berita, tetapi juga menjadi individu yang mampu menyaring, memahami, dan mengelola dampaknya terhadap kesehatan mental.

Menenangkan dan menjernihkan pikiran di tengah gempuran berita yang terus mengejutkan bukan berarti kita tidak peduli terhadap isu sosial. Justru itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita menjaga kesehatan mental agar tetap jernih dalam berpikir, sehingga mampu melihat persoalan dengan lebih bijak dan mencari solusi, bukan sekadar larut dalam kepanikan.

Sebagai pelajar Gen Z, kita tetap memiliki kewajiban utama: belajar, membangun kapasitas diri, dan mempersiapkan masa depan. Jangan sampai kecemasan yang berlebihan merusak mental dan menghambat kita menjalani kehidupan dengan normal. Sebaliknya, situasi dunia yang tidak menentu ini seharusnya menjadi pengingat sekaligus motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah yang konsisten, memperdalam ilmu, dan membentuk karakter agar kelak menjadi pribadi yang bermanfaat, bahkan pemimpin yang lebih bijak.

Kita juga perlu memahami bahwa doa tanpa usaha tidak akan membawa perubahan, begitu pula usaha tanpa doa akan kehilangan arah. Keduanya harus berjalan beriringan.

Namun, ada sisi lain yang perlu diwaspadai. Bersikap tenang bukan berarti abai. Jika kita memilih menganggap semuanya akan baik-baik saja tanpa mau berpikir kritis, tanpa mau memperbaiki diri, itu adalah bentuk kelalaian. Dalam sebuah perlombaan, lawan bisa mengalahkan kita karena kita meremehkannya. Dalam sejarah, sebuah negara bisa terpuruk ketika para pemimpinnya terlalu percaya diri dan menutup mata terhadap ancaman. Bahkan nilai-nilai agama bisa melemah ketika para pengikutnya tidak lagi menjalankan tanggung jawabnya.

Karena itu, bangunlah kepedulian atas dasar hati nurani, bukan karena kecemasan sesaat, bukan pula karena tekanan. Kepedulian yang lahir dari kesadaran akan melahirkan tindakan yang lebih tulus, konsisten, dan berdampak nyata.

Kita tidak harus menjadi orang yang berkuasa, sakti, atau terkenal untuk membawa perubahan. Mengubah dunia tidak selalu dimulai dari panggung besar, kadang justru dimulai dari cara kita menjaga pikiran, merawat kesehatan, dan memperbaiki diri sendiri. Itu jauh lebih bermakna daripada terus meratapi nasib, menyalahkan tahun kelahiran atau generasi sendiri, memantau berita dan ramalan selama 24 jam tanpa henti, lalu perlahan mengorbankan kesehatan diri.

Selain kesehatan mental, kesehatan fisik juga sama pentingnya. Tidak bisa dipungkiri, sebagian Generasi Z menghadapi tantangan fisik akibat gaya hidup yang cenderung sedentari (kurang bergerak), pola makan kurang seimbang, serta tekanan mental yang tinggi. Penggunaan gadget berlebihan sering membuat kita kurang aktif, mengalami postur tubuh yang kurang baik, dan kekurangan waktu tidur. Ditambah konsumsi makanan cepat saji dan stres berkepanjangan, kondisi ini dapat membuat tubuh terasa lebih cepat lelah dan kurang bugar.

Sebagai pelajar di generasi ini, kita perlu mempersiapkan diri secara utuh dengan keteguhan hati, fisik yang terjaga, dan pikiran yang jernih. Setiap agama pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk menjaga diri sendiri sekaligus peduli terhadap sesama. Artinya, merawat diri bukanlah tindakan egois, melainkan bagian dari tanggung jawab.

Ini bukan waktunya terus mengeluh atau berharap hidup akan aman tanpa usaha. Kecemasan yang tidak diarahkan dan sikap lalai terhadap pengembangan diri adalah bom waktu yang tersembunyi. Sebaliknya, kesadaran, kedisiplinan, dan kepedulian yang konsisten akan menjadi fondasi yang kokoh untuk menghadapi apa pun yang terjadi di masa depan.

Jika melihat generasi sebelumnya, seperti Milenial awal, Gen X, maupun Baby Boomers, kita memang sering menilai mereka lebih kuat, baik secara mental maupun fisik. Namun, kekuatan itu lahir dari konteks zaman yang berbeda.

Secara mental, mereka tumbuh di masa ketika kesadaran terhadap kesehatan mental masih rendah. Banyak orang mengalami kecemasan, depresi, atau burnout tanpa pernah terdiagnosis atau dibicarakan secara terbuka. Budaya “tahan saja” dan “jangan mengeluh” membuat emosi sering dipendam. Di sisi lain, mereka tidak menghadapi paparan informasi seintens sekarang. Tidak ada notifikasi tanpa henti, tidak ada arus media sosial 24/7 yang memicu tekanan sosial, perbandingan hidup, dan FOMO seperti yang dialami Gen Z hari ini.

Secara fisik, generasi sebelumnya cenderung lebih aktif. Aktivitas luar ruangan lebih banyak, pekerjaan manual lebih umum, dan waktu layar jauh lebih sedikit. Pola makan pun relatif lebih sederhana, meskipun tetap ada tantangan gizi pada masanya. Namun, mereka juga menghadapi pekerjaan fisik berat yang kerap meninggalkan dampak jangka panjang bagi tubuh.

Dari sini, kita bisa belajar bahwa setiap generasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bukan untuk dibandingkan secara kompetitif, melainkan untuk dipetik pelajarannya. Kebiasaan baik generasi sebelumnya, seperti ketahanan, disiplin, aktivitas fisik yang konsisten, dan kesederhanaan gaya hidup layak untuk kita adopsi. Dipadukan dengan kesadaran mental health, akses informasi, dan kemajuan teknologi yang dimiliki Gen Z, hal ini dapat menjadi fondasi yang memperkokoh generasi kita di masa depan.

Pada akhirnya, menjadi bagian dari Generasi Z di tengah dunia yang bergerak begitu cepat adalah sebuah tantangan sekaligus amanah. Kita hidup di era yang penuh ketidakpastian, tetapi juga penuh peluang. Kita menyaksikan krisis, konflik, dan perubahan besar hampir setiap hari, namun di saat yang sama kita memiliki akses ilmu, teknologi, dan jaringan yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya. Karena itu, respons terbaik bukanlah tenggelam dalam kecemasan, bukan pula menutup mata dan bersikap acuh. Yang kita butuhkan adalah keseimbangan: hati yang tenang namun peduli, pikiran yang kritis namun tidak dipenuhi prasangka, serta langkah yang nyata meski dimulai dari hal kecil. Merawat kesehatan mental dan fisik, memperdalam ilmu, menguatkan spiritualitas, serta membangun karakter bukanlah tindakan egois, itu adalah investasi jangka panjang bagi diri, masyarakat, dan masa depan bangsa.

Dunia tidak berubah hanya karena satu generasi mengeluh, tetapi dunia bisa berubah ketika satu generasi memutuskan untuk bertumbuh. Maka, mari menjadi generasi yang tidak sekadar bereaksi terhadap keadaan, tetapi mampu mempersiapkan diri, memperbaiki diri, dan berkontribusi dengan kesadaran. Dengan keteguhan hati, disiplin, dan kepedulian yang lahir dari nurani, kita tidak hanya akan bertahan di zaman ini, kita akan membentuk arah masa depan itu sendiri.

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Berkaitan

Life Inside the Walls of SMAN 3 Bandung

Talitha Nazneen N (XII-5) Introduction Stepping into the historic halls of...

Why Art Is Important In Society

Written by: Cleo Many people think art is just a...
spot_imgspot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini